Bapperida Sulbar Paparkan Inventarisasi Emisi 2025, Perkuat Perencanaan Pembangunan Rendah Karbon

Blog7 Dilihat

MAKASSAR, maleosulbar.com— Data emisi gas rumah kaca menjadi salah satu dasar penting bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam merancang pembangunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Untuk memperkuat dasar tersebut, BAPPERIDA Provinsi Sulawesi Barat memaparkan dokumen Inventarisasi Gas Rumah Kaca (IGRK) Tahun 2025 dalam kegiatan Koordinasi Penyusunan Peta Jalan Subnasional Wilayah Sulawesi dan Bootcamp ASN Muda dalam Implementasi ENDC Subnasional di Makassar, 14–16 Oktober 2026.

Pemaparan dokumen IGRK 2025 menjadi salah satu capaian penting Sulawesi Barat dalam kegiatan regional tersebut. Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan dalam mengenali sumber emisi dari berbagai sektor sekaligus mendukung perumusan kebijakan dan program pembangunan yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.

Upaya ini sejalan dengan Panca Daya keempat dalam arah pembangunan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas serta pelestarian lingkungan hidup. Melalui visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera, pemerintah daerah mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan provinsi se-Sulawesi untuk memperkuat koordinasi antardaerah dalam penyusunan peta jalan subnasional dan implementasi agenda pengendalian perubahan iklim. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melibatkan empat perangkat daerah, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Pertanian, serta BAPPERIDA.

Keterlibatan keempat perangkat daerah ini mencerminkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menghasilkan data emisi yang memadai dan mengintegrasikannya ke dalam perencanaan pembangunan. Sumber emisi berkaitan dengan berbagai aktivitas, termasuk penggunaan energi dan kegiatan pertanian, sehingga penanganannya memerlukan koordinasi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing perangkat daerah.

Dari BAPPERIDA Sulawesi Barat, kegiatan ini diikuti Muhammad Ikhwanul sebagai perwakilan ASN senior dan Muliawan Gunawan sebagai perwakilan ASN muda. Keduanya berpartisipasi dalam rangkaian koordinasi sekaligus penguatan kapasitas aparatur untuk mendukung perencanaan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, tim ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan pendalaman materi mengenai inventarisasi gas rumah kaca pada berbagai sektor. Penguatan teknis ini membantu peserta memahami pentingnya data sektoral yang akurat, metode inventarisasi yang tepat, serta informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam penyusunan dokumen IGRK.

Inventarisasi gas rumah kaca berperan dalam mengidentifikasi sumber dan memperkirakan besaran emisi dari berbagai aktivitas. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan prioritas mitigasi perubahan iklim, menyusun program yang relevan, serta mengevaluasi arah pembangunan agar lebih selaras dengan upaya pengurangan emisi.

Bagi BAPPERIDA, nilai strategis dokumen IGRK terletak pada pemanfaatannya dalam proses perencanaan pembangunan daerah. Data yang tersedia perlu dihubungkan dengan kebijakan, program, dan penganggaran sehingga upaya pengendalian emisi dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan, bukan berjalan terpisah dari prioritas daerah.

Kepala BAPPERIDA Sulawesi Barat, Amujib menegaskan bahwa data inventarisasi emisi perlu dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan, mulai dari penyusunan kebijakan hingga penentuan program dan anggaran pembangunan.

“Perencanaan pembangunan harus didukung data yang akurat agar kebijakan dan program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan daerah. Untuk itu, inventarisasi gas rumah kaca penting untuk membantu kita mengenali sumber emisi dan menentukan langkah yang tepat dalam mengintegrasikan upaya pengendalian perubahan iklim ke dalam pembangunan daerah,” ujar Amujib.

Ia menambahkan, tantangan selanjutnya adalah memastikan hasil inventarisasi dapat ditindaklanjuti dan memberikan manfaat nyata dalam proses perencanaan pembangunan.

“Data yang sudah tersedia harus ditindaklanjuti menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan. Karena itu, koordinasi antarperangkat daerah sangat penting agar kebijakan di sektor lingkungan hidup, energi, dan pertanian dapat saling mendukung serta sejalan dengan arah pembangunan Sulawesi Barat,” lanjutnya.

Selain koordinasi penyusunan peta jalan subnasional, kegiatan ini juga mencakup Bootcamp ASN Muda dalam Implementasi ENDC Subnasional. Agenda tersebut menjadi ruang pengembangan kapasitas aparatur, khususnya ASN muda, dalam mendukung implementasi kebijakan pengendalian perubahan iklim di tingkat daerah.

BAPPERIDA Sulbar mengirimkan perencana ahli pertama, Muhammad Ikhwanul dan Muliawan Gunawan. Keikutsertaan BAPPERIDA diharapkan memperkuat pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas generasi. Perpaduan pengalaman aparatur senior dan perspektif ASN muda menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan sekaligus mendorong inovasi dalam perencanaan pembangunan.

Ke depan, BAPPERIDA bersama perangkat daerah terkait perlu memperkuat koordinasi dalam pemutakhiran dan pemanfaatan data IGRK 2025. Langkah ini penting agar informasi emisi dapat digunakan secara optimal dalam merumuskan kebijakan dan program yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan Sulawesi Barat.

Melalui penguatan data, sinergi lintas sektor, dan peningkatan kapasitas aparatur, BAPPERIDA Sulawesi Barat mendorong perencanaan pembangunan yang lebih terarah, berbasis bukti, dan berkelanjutan. Dengan demikian, agenda pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan untuk mendukung terwujudnya Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera.